back to blog

Kotlin Multiplatform vs React Native: Framework Cross-Platform Mana yang Sebaiknya Kamu Pilih?

May 22, 2025

8 menit baca

Jujur: memilih framework cross-platform terasa kecil sampai kamu benar-benar terlanjur menggunakannya. Saya sudah lewat jalur ini — React Native → native Android dengan Kotlin → lalu KMP — dan tiap pilihan punya komprominya sendiri. Berikut ringkasan pengalaman saya supaya kamu bisa memilih lebih cepat.

Intinya dulu

  • React Native: cepat untuk prototipe, ekosistem besar, cocok kalau timmu kuat di JS.
  • Native Kotlin: performa terbaik dan akses penuh ke API platform.
  • Kotlin Multiplatform (KMP): bagi logika bisnis, tetapkan UI native — cocok jangka panjang jika tim siap bekerja di dua platform.

Cerita singkat perjalanan saya

Dari web dev ke React Native awalnya enak: familiar dan cepat. Lalu pindah native Android dan jelas terasa jauh lebih mulus performanya. KMP muncul sebagai jalan tengah: bagikan logika, tetap tulis UI native.

React Native — kelebihannya

  • Familiar untuk web dev (JS + React).
  • Iterasi cepat berkat hot reload.
  • Ekosistem besar: kemungkinan besar ada paket untuk kebutuhanmu.

Kekurangannya:

  • Bridge JS→native bisa jadi botol leher performa (terutama animasi kompleks).
  • Masih ada kasus spesifik platform yang mesti di-handle terpisah.
  • Ukuran bundle dan dependensi native kadang merepotkan.

Cocok untuk: MVP, prototipe, aplikasi CRUD sederhana, tim web-first.

Native Android (Kotlin) — kelebihannya

  • Performa native tanpa kompromi.
  • Akses penuh ke API terbaru dan tooling bagus (Android Studio).
  • Keamanan tipe dan null-safety Kotlin kurangi bug runtime.

Kekurangannya: kamu harus mengelola codebase terpisah untuk iOS, dan waktu develop lebih lama.

Cocok untuk: aplikasi performa-krusial, integrasi fitur platform dalam, atau proyek jangka panjang.

Kotlin Multiplatform — kenapa menarik

Pendekatannya: bagikan logic (networking, validasi, rules), tulis UI secara native di masing-masing platform.

Kelebihan:

  • Performa native (tidak ada bridge JS).
  • Adopsi bertahap: mulai dari satu modul yang dibagikan.
  • Type-safety di seluruh stack jika timmu nyaman dengan Kotlin.

Kekurangan:

  • Butuh pengetahuan native di kedua platform untuk UI.
  • Ekosistem belum sebesar RN; sesekali kamu bikin solusi sendiri.
  • Tooling makin baik tapi masih ada bagian yang perlu pembenahan.

Cocok untuk: tim yang ingin maintainability jangka panjang, aplikasi dengan business logic kompleks tapi UI standar.

Performa & DX — ringkasan saya

  • Performa: Native ≈ KMP > RN untuk kasus UI/processing berat.
  • DX: RN tercepat untuk prototipe; KMP dan Native lebih stabil untuk proyek jangka panjang.

Contoh singkat

React Native (JS):

interface User {
  id: string
  name: string
  email: string
}

async function fetchUser(id: string): Promise<User> {
  const res = await fetch(`/api/users/${id}`)
  return res.json()
}

KMP (shared Kotlin):

@Serializable
data class User(val id: String, val name: String, val email: String)

class UserRepository {
  suspend fun fetchUser(id: String): User =
    httpClient.get("/api/users/$id").body()
}

Shared Kotlin berjalan native di tiap platform dan menjaga logika bisnis tetap konsisten.

Rekomendasi praktis

  • Pilih React Native kalau kamu harus cepat dan timmu web-first.
  • Pilih Native kalau performa dan integrasi platform sangat penting.
  • Pilih KMP kalau ingin kompromi: performa native + logika bersama untuk jangka panjang.

Mulai kecil: coba bagikan satu modul KMP, ukur manfaatnya, lalu tentukan langkah berikutnya. Gimana kondisi timmu dan target produkmu? Itu yang paling menentukan keputusan terbaik.

Enjoyed this article? Share it with your network!